Penjaskesrek

Blog ini Berisi Informasi Seputar Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan yang Cocok untuk Semua Kalangan.

Pencegahan Cedera Olahraga

Dalam sejarah perkembangan olahraga, terdapat kemajuan dalam ilmu pengetahuan terutama dalam penanganan cedera. Pada masa-masa yang lalu, banyak ahli yang sama sekali tidak tahu apa yang sebaiknya dikerjakan untuk kebaikan para olahragawan. Yang biasanya menjadi dasar tindakannya adalah olahragawan yang cedera harus dapat segera turun kelapangan lagi tanpa diketahui apa sebenarnya cedera yang dideritanya. Asal sudah diberi perawatan tertentu, olahragawan diharuskan terjun lagi kelapangan. Hal ini tentu sangat merugikan olahragawan, sebab cedera yang dideritanya apabila tidak diatasi secara sempurna akan mengundang cedera selanjunya yang lebih parah bahkan mungkin berakibat fatal. Pengetahuan tentang pencegahan ini hendaknya diketahui dalam bahasa sama antara pelatih, dokter olahraga dan dokter ahli.

Cedera
Pencegahan meliputi usaha mencegah terjadinya cedera pertama, kalau terjadi cedera pertama yang harus dilakukan adalah tindakan yang tepat dan cepat sehingga olahragawan yang bersangkutan dapat kembali dalam waktu yang singkat dan selanjutnya dilakukan tindakan agar tidak terjadi cedera berikutnya.

Pada hakikatnya tindakan pencegahan dapat dibagi dalam dua bagian;
  • Bidang Fisik
  • Bidang Psikis

Pencegahan dalam bidang fisik 

Endogen (Faktor dari dalam)

1. Gizi

Yang dimaksud dengan gizi disini adalah makanan yang dimakan sehari-hari. Makan tidak berarti hanya untuk kenyang tetapi yang terpenting adalah makanan harus mengandung zat gizi dalam jumlah yang cukup dan lengkap untuk tubuh, sekalipun tidak sesuai dengan selera (kalau memungkinkan disesuaikan dengan selera. Makan-makanan yang bergizi, harus disajikan pola hidup dan kebiasaan sehari-hari. Pedoman makanan yang bergizi yaitu: Makanan seimbang yang mengandung tiga golongan unsur yang dibutuhkan tubuh. Tiga golongan unsur itu ialah; unsur pemberi tenaga (berupa zat gizi hidrat arang, protein dan lemak), unsur yang diperlukan untuk membangun sel-sel jaringan tubuh (berupa zat gizi protein, mineral, air), dan unsur yang diperlukan untuk mengatur pekerjaan jaringan tubuh (berupa zat gizi vitamin dan mineral).

Jadi makanan yang dimakan sehari-hari pada dasarnya terdiri dari enam zat gizi yang diperlukan oleh tubuh. Keenam gizi itu ialah hidrat arang atau karobohidrat (sumbernya; beras, jagung, kentang, sagu gandung dll), lemak (sumbernya; minyak ikan, minyak kelapa, minyak kacang, lemak binantang dll), protein (sumbernya; daging, ikan, telur, kacang ijo, kacang kedelai, susu dll), mineral (sumbernya; buah-buahan, sayur-sayuran, ikan teri, telur, hati dll), vitamin (sumbernya; buah-buahan, sayur-sayuran, hati dll) dan air. Kebutuhan zat gizi seperti yang disebutkan diatas bisa dipenuhi dengan cara makan yang seimbang dalam jumlah yang cukup dan variatif jenisnya. Dengan makanan yang bergizi tubuh akan kuat dan sehat sehingga dapat mencegah terjadinya cedera yang tidak diinginkan. 

2. Saat Istirahat

Makin berat latihannya, makin lama waktu yang dibutuhkan untuk istirahat atau pemulihan. Latihan yang berat memberi stres pada tubuh yang dapat berakibat cedera ringan pada otot sehingga butuh waktu untuk penyembuhan yaitu dengan istirahat. Jika otot tidak sempat istirahat sehingga cedera-cedera ringan belum sembuh maka akibatnya cedera otot akan menjadi lebih berat. Mengapa otot butuh waktu pemulihan setelah latihan berat ? hal ini disebabkan karena serabut otot rusak karena latihan berat dan seperti jaringan tubuh lainnya, butuh waktu untuk penyembuhan sesuai dengan beratnya cedera. Bahan bakar otot yaitu glikogen habis terpakai, tubuh membutuhkan waktu untuk mengisi kembali. Kalium salah satu mineral yang dilepas dari sel otot untuk mengontrol panas juga habis dan butuh waktu untuk memulihkan kembali (Mirkin G. Hoffman. M. 1978;31). Jadi waktu istirahat sangat penting untuk mencegah terjadinya cedera yang lebih berat.

3. Latihan Teratur dan Terus Menerus 

Dengan latihan yang teratur dan terprogram dengan baik, juga mencegah terjadinya cedera,. Hal ini bisa diterangkan sebagai berikut; Latihan yang terprogram dengan baik dan terus menerus dapat mencegah terjadinya latihan yang berlebihan, latihan yang berlebihan dapat berakibat badan selalu letih dan sering menderita pilek serta cedera. Gejala-gejala lain akibat latihan yang berlebihan adalah: Pada otot; rasa sakit dan kekakuan yang terus menerus pada otot, persendian, tendon dan kaki teras berat.

Gejala emosi; kehilangan minat berlatih, gugup, depresi, sikap tidak peduli (apatis), tidak dapat bersantai, prestasi akademik dan pekerjaan menurun. Adapun tanda-tandanya pada tubuh; sakit kepala, nafsu makan tidak ada, menurunnya penampilan, lelah, malas, berat badan menurun, pembengkakan kelenjar limpe, sembelit atau diare dan tidak haid bagi perempuan. (Mirkin G. Hoffman. M. 1978:33). Jadi latihan teratur dan berkelanjutan (terprogram) dapat mencegah cedera.

4. Latihan

Manusia tidaklah seperti sebuah mesin yang begitu selesai diproduksi langsung bisa jalan dan dapat diketahui kekuatan dan daya tahan mesinnya. Tubuh manusia harus dilatih secara teratur, terprogram dan terarah, baru akan didapatkan kekuatan, daya tahan dan lainnya. Kalau mesin mobil setelah diproduksi tenaga yang dimiliki tetap, sedangkan manusia dengan proses latihan akan memperoleh perkembangan baik dalam bidang kekuatan, daya tahan, dan tenaga. Oleh karena itu agar dapat mempunyai penampilan yang prima tidak ada jalan lain harus latihan. Karena hanya dengan latihan yang teratur dan terprogram akan diperoleh tingkat kesegaran jasmani yang tinggi/maksimal. Kesegaran jasmani yang tinggi/maksimal dapat mengurangi kemungkinan terjadinya cedera (mencegah cedera).
  1.  Pemanasan adalah usaha untuk persiapan otot-otot untuk melakukan gerakan yang sesungguhnya. Hal ini perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya cedera dan mencapai titik prestasi maksimal. Pemanasan 10-20 menit dapat meningkatkan vaskularisasi otot sampai 70%. Untuk pemanasan otot-otot besar dibutuhkan waktu yang lebih banyak, yaitu 15-20 menit lamanya. Setelah pemanasan sebaiknya olahragawan langsung mengganti baju untuk menghindari pendinginan otot akibat penguapan keringat. Pemanasan sebaiknya tidak lebih dari 10 menit sebelum latihan atau pertandingan. Gerakan pertama sebelum melakukan kegiatan fisik atau latihan yang dianjurkan adalah peregangan. Peregangan dapat disesuaikan dengan olahraga/latihan yang dikerjakan atau peregangan secara umum. Peregang disini berguna untuk menyiapkan seluruh organ tubuh khusunya persendian dan otot-otot besar yang akan bekerja berat sehingga terhindar dari cedera. Kemudian baru melakukan gerakan-gerakan yang sesuai dengan cabang olahraganya.
  2. Kekuatan dapat dicapai dengan latihan-latihan: isotonik, isometrik dan isokinetik. Untuk menghasilkan kekuatan yang diinginkan, maka dalam latihan-latihan tersebut diatas hendaknya memperhatikan hal-hal berikut ini.
a. Intensitas latihan, pada saat latihan yang diperhatikan bukanlah lamanya latihan, akan tetapi   yang sangat penting adalah kepadatan dari latihan tersebut.
b. Macam latihan, karena latihan adalah suatu aktivitas yang dilakukan berulang-ulang maka kemungkinan timbul rasa bosan adalah besar. Untuk mencegah timbulnya rasa bosan maka diupayakan macam ragam latihan dan variasi latihan.
c. Frekuensi latihan, untuk memelihara suatu kondisi, frekuensi latihan yang teratur dan tetap perlu dipertahankan. Berlatih dengan frekuensi tiga kali seminggu adalah jadwal minimal untuk mempertahankan satu kondisi tubuh.
d. Lama latihan, lamanya tiap kali latihan harus diperhatikan. Hal ini erat hubungannya dengan tujuan yang ingin dicapai, serta untuk menghindari kemungkinan terjadinya latihan yang berlebihan dan lain sebagainya.
Dengan kekuatan yang baik tubuh bisa terhindar dari cedera.

5. Pendinginan

Setelah melakukan olahraga/latihan jangan lupa ditutup dengan pendinginan. Gerakan pendingin sama dengan waktu mulai melakukan olahraga yaitu berupa gerakan peregangan. Pendingin ini sangat penting untuk mencegah terjadinya cedera.

Eksogen (Faktor Dari Luar)

1. Lingkungan

Tim harus benar-benar menyiapkan olahragawan yang berhubungan dengan cuaca, suhu udara dan penerangan. Misalnya latihan dalam suhu panas, maka bahaya yang mungkin timbul ialah: kejang kepanasan, payah kepanasan, dan pingsan kepanasan. Hal ini disebabkan: pengaruh suhu panas, kekurangan air dan penimbunan panas dalam tubuh.

2. Sarana Dasar

Sarana dasar disini adalah peralatan yang dipakai secara umum, misalnya keadaan lapangan atau peralatan lain. Keadaan lapangan dan peralatan yang dipakai harus dalam keadaan baik. Karena keadaan lapangan yang buruk dan alat olahraga yang rusak dapat menimbulkan cedera yang sebetulnya tidak perlu terjadi. Dalam dunia pendidikan peran gurr penjas diperlukan untuk menghindari anak didiknya dari cedera.

3. Sarana tambahan

Sarana tambahan disini adalah alat-alat yang bersifat melindungi olahragawan. Pada dasarnya alat pelindung diri olahragawan harus mempunyai fungsi;
  1. Melindungi tubuh dari cedera.
  2. Menghindarkan tubuh yang cedera dari cedera yang lebih parah.
  3. Menghindarkan adanya cedera ulang.

Pencegahan Dalam Bidang Kejiwaan

Mengenai pencegahan cedera dalam bidang kejiwaan dikemukakan bahwa:

Faktor kejiwaan kita pengaruhnya terhadap terjadinya cedera sukar untuk diambil kesimpulannya. Cedera adalah hasil interaksi yang sangat kompleks dan variabel-variabelnya antara lain: tipe dan olahraganya, derajat kompetisinya, alat yang dipakai, pengalaman teknik melatih kondisi pada waktu main dan sifat-sifat pribadi (Djoko Roeshadi).

Pencegahan Cedera Olahraga Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Ikbal H

0 komentar:

Post a Comment