Penjaskesrek

Blog ini Berisi Informasi Seputar Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan yang Cocok untuk Semua Kalangan.

Pengertian, Sejarah dan Manfaat Psikologi Olahraga Lengkap

Sebagaimana umumnya, sebelum membahas sesuatu, terlebih dahulu penting kita ketahui bersama terlebih dahulu defenisi dari apa yang akan kita bahas, untuk kali ini saya akan mengajak teman-teman untuk membahas mengenai psikologi olahraga. Apa itu psikologi olahraga ? bagaimana sejarahnya ? dan apa manfaat mempelajari psikologi olahraga ?.

Psikologi
chsprospector.com
Semua pertanyaan diatas akan coba kami jawab dalam tulisan ini, mudah-mudahan dapat membantu kawan sekalian mengenal lebih dalam mengenai psikologi olahraga, jangan lupa siapkan kopi dan cemilannya karena pembahasannya sedikit penjang, hehe. selamat membaca.

Pengetian Psikologi Olahraga

Khonstman menyebutkan adanya psikologi yang mempelajari tingkahlaku manusia dalam keadaan-keadaan tertentu, misalnya manusia dalam keadan panik, dipelajari oleh psikologi massa, manusia dalam proses produksi pabrik diperusahaan atau pabrik dipelajari oleh psikologi industri.

Nah, khusus untuk psikologi olahraga sendiri berikut ini beberapa pendapat ahli.

John D. Lawther (1972) dalam bukunya "sport pshycology" mengajukan pengertian: "Sport psycology is the study of human behaviour in sport situation. It focuces on both learning and performance, and considers both participants dan spectator".

Rohrer dan Sherif (1950) dalam penelitiannya di Connecticut Utara pada tahun 1949 membuktikan bahwa individu mengadakan reaksi yang berbeda dalam situasi sebagai anggota kelompok dengan situasinya sendiri sebagai individu. Dijelaskan lebih lanjut bahwa pendapat, persepsi dan motif-motifnya dalam situasi kelompok tidak hanya ditentukan oleh ciri-ciri individu yang dibawa dalam situasi tersebut, tetapi juga tergantung pada keadaan struktur kelompok dan situasi kelompok dimana individu tersebut bergabung.

Menurut Sherif (1965), yang kemudian menjadi Direktur Lembaga Riset Nasional Amerika Serikat dalam memaparkan bahwa manusia dalam interaksi dengan manusia lain selalu berhubungan dan dipengaruhi oleh lingkungan sekitar.
Dalam olahraga, ada banyak sekali interaksi yang mempengaruhi psikologi seorang olahragawan, seperti atlet dan pelatih dan lainnya. Disamping itu masih ada faktor lain yang dapat menimbulkan dampak psikologis, seperti penonton, media massa, ataupun masyarakat sekitar. Semua hal ini tidak boleh dipinggirkan jika ingin mendalami gejal-gejala psikologi olahraga.

Dari beberapa pendapat diatas, dapat kita simpulkan psikologi olahraga adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku dan pengalaman manusia saat berolahraga dalam interaksinya dengan manusia lain dalam situasi-situasi yang mempengaruhinya. Dari pengertian ini juga ditegaskan pula bahwa perlunya pendekatan manusia sebagai individu sekaligus sebagai makhluk sosial dalam mempelajari psikologi olahraga.

Sejarah Perkembangan Psikologi Olahraga

Berbicara mengenai sejarah perkembangan psikologi olahraga, dapat kita bagi dalam tiga periode perkembangan yang menonjol, yaitu perkembangan sebelum abad 17, antara abad 17 sampai 19, dan sesudah abad 19.

Sebelum abad ke 17 psikologi olahraga sangat dipengaruhi pemikiran-pemikiran filosofis. Obyek penyelidikan saat itu terutama ditujukan untuk memahami "hakekat kehidupan jiwa"; antara lain seperti pertanyaan mendasar mengenai apa jiwa itu, apa unsur-unsur jiwa dan sebagainya, psikologi sebelum abad 17 ini masih bersifat konseptual dan spekulatif.

Antara abad ke 17 sampai abad ke 19 psikologi lebih banyak dipengaruhi pandangan obyektivisme dan empirisme kala itu, yang mendasarkan kebenaran pada hasil pengamatan, pengalaman dan kesadaran manusia. Kala itu kata-kata salah satu filosof bernama Rene Descartes yang berbunyi Cogito Ergo Sum (aku berfikir maka aku ada) menjadi begitu terkenal. Suasana yang waktu itu meliputi alam fikiran ialah suasana positivisme, materialisme, rasionalisme, dan metodenya adalah "metematikofisime" (Drijakara 1996). Obyek penyelidikan psikologi abad 17 sampai abad 19 terutama adalah gejala jiwa yang dialami dengan sadar dan dapat diamati dengan panca indera.

Pada akhir abad ke 19 berkembanglah psikologi intrumental, yang diawali antara lain dengan didirikannya laboratorium psikologi oleh Wilhelm Dunt pada tahun 1886 di Leipzing.

Sejak akhir abad ke 19 para ahli psikologi berusaha menerapkan hasil-hasil penelitian psikologi dalam kehidupan sehari-hari. Sejajar dengan itu maka tumbuh dan berkembanglah psikologi terapa di berbagai bidang, antara lain di bidang pendidikan, kedokteran, industri, kriminal, dan akhirnya juga dalam bidang olahraga dengan dikembangkannya psikologi olahraga.

Sejarah Pertumbuhan Psikologi Olahraga

Menurut Silva III dan Weinberg (1984), salah satu studi pendahuluan dalam pskilogi olahraga telah dilakukan oleh George W. Flitz yang menyelidiki waktu reaksi (reaction time) yang tercantum dalam "Physiclogical Review" tahun 1895. Flitz adalah Kepala Depatemen Anatomi, Fisiologi, dan Latihan Fisik pada Harvard Lawrence Scientific School. Dia telah menciptakan alat untuk mengukur kecepatan dan ketepatan seseorang.

Menurut Silva III dan Weinberg (1984) juga mengemukakan hasil studi Robert A. Cummins (1914), seorang instruktur psikologi pada Universitas Washington yang meneliti efek latihan bola basket terhadap reaksi motrik, perhatian kesanggupan mengingat.

Scripture, direktur laboratorium psikologi Universitas Yale, berpendapat watak yang baik dan sifat-sifat pribadi dapat dipelihara dengan berperan serta dalam olahraga dan sifat-sifat tersebut dapat di transfer dalam keadaan yang berbeda dalam kehidupan seseorang.

Pada tahun 1918 Colleman Robert Griffith telah memulai mangadakan penelitian di Universitas Illionis dengan menyelenggarakan serangkaian observasi informal mengenai faktor-faktor psikologis yang terlibat dalam olahraga bola basket dan sepakbola. Pada tahun 1925 Griffith sudah mengadakan persiapan untuk mendirikan laboratorium psikologi olahraga. Kemudian secara resmi Griffith menjadi Direktur "the Athletic Research Laboratory" di Universitas Illinois. Griifth juga disebut-sebut sebagai "Bapak Psikologi Olahraga", khusunya di Amerika.

Adapun laboratorium psikologi olahraga pertama di dunia didirikan oleh Carl Diem "Deutsche Hochscule Fur Leibesubungen" di Berlin Jerman apada tahun 1920. 

Sesudah perang dunia ke II, Warren R. Johnson pada awal tahun 1949 mengawali penelitian mengenai bermacam-macam element stress dan dampaknya terahadap penampilan atlet. Tujuan salah satu penelitian tersebut adalah membandingkan reaksi emosional sebelum bertanding pada pemain sepakbola dan pegulat. Johnson berkesimpulan bahwa emosi kuat sebagai gejala wajar rasa takut dan resah sebelum bertanding tidak tampak sebagai faktor utama yang istimewa pada sepakbola, tetapi ada indikasi yang kuat bahwa ini merupakan sesuatu yang penting dan serius dalam gulat.

Setelah perang dunia ke II ada begitu banyak penelitian mengenai psikologi olahraga yang dilakukan oleh para ilmuwan yang kemudian menjadi acuan beberapa studi dewasa ini. Seperti reaksi-reaksi emosional, sifat-sifat kepribadian atlet, agresivitas petinju dan masih banyak yang lainnya. 

Sesudah Kongres Psikologi Olahraga 1965

Kongres psikologi olahraga pertama diselenggarakan di Roma Italia pada tahun 1965 yang diprakarsai oleh seorang psikiater bernama Professor Ferrucio Antonelli. Dalam kongres tersebut pula disepakati pula pembentukan "Internasional Society of Sport Psycology" yang kemudian disingkat menjadi ISSP yang diketuai oleh DR. Guido Schilling. Organisasi ini terbentuk karena didorong oleh kesadaran bahwa olahraga membutuhkan pendekatan psikologis, setelah kongres tersebut psikologi olahraga berkembang semakin pesat seiring dengan bertambahnya pula pengetahuan masyarakat mengenal psikologi. Kegiatan dari ISSP tersebut bertujuan mengembangkan dan menerapkan dasar-dasar ilmiah dari disiplin psikologi untuk keperluan aktivitas fisik.

Di Amerika perkembangan psikologi olahraga juga ditunjang dengan berdirinya organisasi yang bergerak di bidang psikologi olahraga, yaitu North Society for the Psycology of Sport and Physical Activity (NASPSPA) pada tahun 1966. 

Pada tahun 1968, setelah dilaksanakan kongres psikologi olahraga yang kedua di Washington DC, beberapa sarjana dari Canada yang menyelesaikan studi di Amerika mendirikan Canadian Society for Psycomotor Learning and Sport Psycology (CSPLSP) yang berpusat di Universitas Alberta pada tahun 1969, dengan tokoh-tokohnya antara lain Bob Willberg, Alderman, dan lainnya.

Seiring dengan berjalannya waktu, psikologi olahraga semakin berkembang dan terjadi perbedaan minat juga dikalangan para ilmuwan, objective (sasaran) dan teknik-teknik penelitian, maka sejak awal 1970 an terjadi pemisahan lingkup studi atas "bidang motorik" yang lebih banyak melakukan penelitian terapan (applied research),dan profesional psikologi olahraga yang banyak berkecimpung dalam mengetes teori dasar (basic theory). Pada kongres internasional yang diselenggarakan di Ottawa tahun 1981, ada lebih dari 30 makalah yang dibahas, dan pada pertemuan NASPSPA lebih banyak bersifat mengetes teori dan pengembangannya. 

Disamping Amerika, beberapa negara seperti Rusia, Jerman Timur, Austria, Cekoslavia, dan Norwegia telah secara konkrit memanfaatkan psikologi olahraga untuk atlet-atlet nasionalnya.

Manfaat Psikologi Olahraga

Manfaat mempelajari psikologi olahraga tidak sama bagi atlet, pelatih ataupun bagi masyarakat secara umum. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa tujuan ilmu pengetahuan meliputi: 1.) eksplanatif, 2.) prediktif, 3.) kontrol.

Tujuan eksplanatif, yaitu menjelaskan dan memahami gejala tingkah laku dan pengalaman manusia berolahraga sangat perlu karena tindakan dan perbuatan yang tampak pada hakekatnya tidak dapat terlepas dan sikap tidak tampak yang didorong oleh banyak faktor-faktor psikologis lainnya, seperti sifat-sifat pribadi individu, motif, pemikiran, perasaan, pengalaman dan juga situasi sekitar. Jelaslah bahwa untuk memahami berbagai tingkah laku manusia berolahraga pemanfaatan psikologi olahraga sangat diperlukan.

Tujuan untuk membuat prediksi, yaitu meramalkan kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi dalam olahraga, sehingga lebih siap menghadapi hal-hal yang mungkin terjadi. Prediksi yang tepat, didasarkan atas fakta-fakta atau pengalaman empirik dam analisis deduktif dengan menerapkan teori-teori yang tepat. Untuk dapat membuat prediksi yang tepat perlu ditunjang dengan pengetahuan tentang tes, pengukuran dan evaluasi. Ketepatan sebuah prediksi dapat dilakukan melalu analisis induktif dan deduktif sekaligus.

Tujuan untuk mengontrol adalah mengendalikan gejala-gejala tingkah laku dalam olahraga yang dapat menjurus ke hal-hal yang tidak menguntungkan perkembangan subjek, dalam hal ini kalau perlu dapat mengadakan tindakan perlakuan untuk menanggulanginya. Untuk dapat mengontrol gejala tingkah laku yang dapat berakibat negatif perlu ditunjang data yang akurat dan kesimpulan yang tepat, serta penguasaan teknik-teknik perlakuan.

Manfaat Bagi Pelatih Olahraga

Sudah barang tentu pelatih olahraga tidak perlu memahami semua hal yang berhubungan dengan tujuan dan peranan ilmu pengetahuan khususnya psikologi olahraga, karena tugas pelatih yang utama adalah melatih sebaik mungkin. 

Psikologi Olahraga
www.maryfreebed.com
Adapun manfaat pelatih olahraga mempelajari psikologi olahraga antara lain:
  1. Untuk memahami gejala-gejala psikologis yang terjadi pada manusia yang berolahraga (atlet).
  2. Untuk dapat memahami faktor-faktor psikologis yang dapat mempengaruhi peningkatanatau merosotnya prestasi atlet.
  3. Untuk mempelajari kemungkinan penerapan teori-teori psikologi olahraga dalam usaha pembinaan atlet, antara lain dalam pembinaan mental
  4. Untuk mempelajari hasil-hasil penelitian psikologi olahraga, sebagai bahan banding serta kemungkinan penerapannya dalam kepelatihan.
Mengingat besarnya manfaat mempelajari psikologi olahraga yang dapat dipetik tersebut, maka menjadi tugas para ahli psikologi untuk mengamalkan pengetahuan, sehingga dapat diterapkan dalam upaya meningkatkan mutu kepelatihan di Indonesia. Namun tentu saja untuk mencapai itu semua dibutuhkan juga bantuan dari cabang psikologi lainnya, seperti psiko-diagnostik, psiko-pendidikan, psiko-sosial dan sebagainya.

Peranan Psikologi Olahraga

Psikologi Olahraga Bagi Pelatih
stewartcotterill.co.uk
Sesuai dengan tujuan eksplanatif yang ingin dicapai, maka psikologi olahraga dapat memperdalam dan mengembangkan teori-teori yang berhubungan dengan tingkah laku dan pengalaman dalam olahraga. Dengan menguasai psikologi olahraga maka anda dapat lebih memahami dan menjelaskan gejala-gejala dalam olahraga, seperti:
  • Timbulnya motivasi, terjadinya perubahan motivasi pada atlet, perkembangan sikap, self image dan self concept.
  • Stabilitas emosional, kematangan emosional, ketahanan mental, mental training dan lainnya.
  •  Masalah stress dan upaya-upaya relaksasi.
  • Masalah anxiety, terjadinya frustasi serta hubungannya dengan tindakan agresif dan sebagainya.
Sesuai dengan tujuan prediktif yang ingin dicapai, maka psikologi olahraga perlu dikembangkan dengan penelitian-penelitian sehingga dapat meramalkan kemungkinan gejala-gejala yang dapat terjadi dalam olahraga, misalnya:
  • Akibat stress terhadap atlet dengan sifat-sifat kepribadian yang berbeda-beda (individual differences).
  • Gejala-gejala psikologis yang dapat terjadi pada atlet yang beberapa kali mengalami kegagalan.
  • Gejala timbulnya ketidakseimbangan psikologis serta kemungkinan-kemungkinan akibatnya.
  • Atas dasar pengamatan dan analisis deduktif (konseptual) meramalkan kemungkinan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi peningkatan prestasi atlet, misalnya: motif berprestasi, percaya diri sendiri, disiplin, rasa tanggung jawab, rasa harga diri, kematangan emosi, dan sebagainya.
Hasil suatu prediksi yang bersifat konseptual (spekulatif) masih perlu diselidiki lebih lanjut kebenarannya. Misalnya, untuk menetapkan faktor-faktor yang betul-betul berpengaruh dan menentuka prestasi atlet perlu diteliti dengan analisis faktor

Semua tujuan ilmu pengetahuan yang ingin melakukan kontrol maka psikologi olahraga perlu ditunjang dengan teknik pengumpulan data dan pemahaman gejala psikologis, serta penguasaan teknik-teknik perlakuan yang perlu diberikan untuk menghindarkan akibat-akibat negatif, misalnya dalam menghadapi:
  • Kemungkinan terjadinya frustasi dan upaya-upaya mengatasinya.
  • Merosotnya motivasi berlatih dan bertanding, serta teknik-teknik memelihara motivasi dan menumbuhkan motivasi lebih kuat.
  • Gejala over-confidence dan cara mengatasinya.
  • Timbulnya prasangka dalam satu tim yang mengakibatkan hubungan yang disharmonis, serta usaha-usaha mengatasinya dan sebagainya.
Itulah beberapa informasi mengenai psikologi olahraga, mempelajari psikologi olahraga memang dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas olahraga itu sendiri. Nah sudah menjadi tugas kita bersama untuk masing-masing mengambil peran meskipun kecil untuk mengembalikan kejayaan olahraga Indonesia secara umum dan sepakbola secara khusus, kebetulan kami ini penggemar berat sepakbola tanah air. hehe.

Semoga Bermanfaat

Pengertian, Sejarah dan Manfaat Psikologi Olahraga Lengkap Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Ikbal H

0 komentar:

Post a Comment