Penjaskesrek

Blog ini Berisi Informasi Seputar Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan yang Cocok untuk Semua Kalangan.

Tujuan Pencak Silat Lengkap


Segala sesuatu yang ada di dunia ini tentu memiliki tujuannya masing-masing, tidak terkecuali pencak silat, ya beladiri yang berasal dari Indonesia ini pada awalnya memang diciptakan sebagai salah satu cara manusia untuk melindungi dirinya dari ancaman, baik alam, hewan maupun manusia. Namun seiring dengan berjalannya waktu, tujuan pencak silat pun semakin berkembang dan menyesuaikan dengan kemajuan zaman itu sendiri, seperti apa sih tujuan pencak silat itu ? berikut jawabannya. Cekidot.

Pencak Silat

Tujuan Pencak Silat

Pencak silat mengandung empat aspek. Tiap-tiap aspek pencak silat menggambarkan tujuan, satu sama lain merupakan satu kesatuan. Keempat aspek tersebut yang mendasari pengembangan pencak silat menjadi 4 tujuan, yakni: 

  • Pencak silat pendidikan mental-spiritual
  • Pencak silat beladiri
  • Pencak silat seni
  • Pencak silat olahraga

a. Pengembangan Pendidikan Mental-Spiritual

Pencak silat juga merupakan sarana yang ampuh untuk pembinaan mental spiritual, terutama untuk mewujudkan budi pekerti yang luhur. Pencak silat telah menunjukkan jati dirinya dan telah terbukti membentuk kepribadian yang kokoh bagi para pengikutnya. Tidak hanya pembinaan terhadap aspek olahraganya, seni dan beladiri semata-mata, melainkan dapat mengembangkan watak luhur, sikap ksatria, percaya diri sendiri dan takwa terhadap Tuhan yang Maha Esa.

Sentuhan pencak silat yang dilaksanakan dalam dunia pendidikan yang dimulai dari tingkat dasar akan sangat membantu pembentukan kader bangsa yang berjiwa patriotik, berkepribadian luhur, disiplin dan taqwa kepada Tuhan yang Maha Esa. 

Seorang pesilat harus mampu menjaga, melestarikan, dan mengembangkan nilai-nilai dasar seperti ketekunan, kesabaran, kepahlawanan, kepatuhan dan kesetiaan, dan memberi landasan apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan kepada warga masyarakat. Hal ini juga tercermin dari tradisi yang dilakukan oleh perguruan silat seperti, upacara talek (talekan) atau upacara pengucapan janji dari seorang calon murid yang akan berguru di suatu perguruan.

Beladiri pencak silat bertujuan untuk mengembangkan aspek akhlak rohani (pendidikan mental spiritual).
Bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa dan berbudi luhur. Hal ini berarti kewajiban untuk:

  1. Beriman teguh kepada Tuhan yang Maha Esa dan melaksanakan ajaran-ajarannya, yakni melaksanakan perintah-perintahnya dan meninggalkan larangan-larangannya.
  2. Menghormati orang tua, orang yang lebih tua, guru, kakak seperguruan, keinginan, harapan dan kepentingan.
  3. Berperilaku sopan santun dalam dalam pergaulan sosial sesuai dengan tata susila yang berlaku.

Tenggang rasa, percaya diri sendiri dan berdisiplin. Hal ini berarti kewajiban untuk:

  1. Tidak bertindak sewenang-wenang terhadap sesama manusia.
  2. Mencintai dan suka menolong sesama manusia.
  3. Berani dan tabah menghadapi segala bentuk tantangan hidup.
  4. Sanggup berusaha dengan tidak kenal menyerah di dalam mencapai hal-hal positif yang menjadi idaman dan cita-cita.
  5. Patuh dan taat kepada norma-norma yang mengatur kehidupan pribadi maupun sosial.

Cinta bangsa dan tanah air, hal ini berarti kewajiban untuk:

  1. Memandang seluruh bangsa dan wilayah tanah air dengan kekayaan dan atribut sebagai satu kesatuan.
  2. Merasa bangga menjadi bangsa dan memunyai tanah air Indonesia sendiri serat berusaha untuk mengembangkannya.
  3. Menyelamatkan keutuhan/persatuan, kepribadian, kelangsungan hidup dan pembangunan bangsa yang berdasarkan pada pancasila dan UUD 1945.

Persaudaraan, pengendalian diri dan tanggung jawab sosial.

  1. Menjamin kerukunan, keselarasan, keseimbangan, dan keserasian dalam hidup bermasyarakat.
  2. Mampu mengatasi segala permasalahan yang timbul secara musyawarah dengan semangat kekeluargaan.
  3. Bergotong royong di dalam mewujudkan hal-hal yang merupakan kepentingan sendiri maupun golongan.
  4. Menempatkan kepentingan masyarakat/umum di atas kepentingan sendiri maupun golongan.

Solidaritas sosial, mengejar kemajuan serta membela kejujuran, kebenaran dan keadilan. Hal ini berarti mewajibkan untuk:

  1. Memperhatikan dan menyesuaikan diri dengan keadaan kehidupan di lingkungan sosial.
  2. Selalu berusaha untuk meningkatkan kualitas diri sebagai sarana untuk memperoleh kemajuan.
  3. Berani mencegah dan memberantas kemunafikan, kepalsuan, dan keserakahan dengan cara-cara yang baik.
  4. Melaksanakan pengabdian untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemajuan masyarakat. Keseluruhan materi aspek akhlak/rohani ini merupakan landasan bagi aspek-aspek lainnya.

b. Pengembangan Aspek Beladiri

Indonesia terdiri dari berbagai suku bangsa dengan karakteristik biologis, sosial dan kebudayaan yang berbeda, namun mereka memiliki tradisi mempelajari pencak silat sebagai alat membela diri dari ancaman alam, binatangm maupun manusia. Pencak silat beladiri merupakan cikal bakal dari aspek pencak silat yang lainnya.

Pencak silat beladiri bertujuan untuk mengembangkan aspek beladiri, yaitu terampil dalam bergerak efektif untuk menjamin kesempatan/kesiapsiagaan fisik dan mental yang dilandasi sikap ksatria, tanggap dan mengendalikan diri. Hal ini berarti adanya kewajiban untuk:

  1. Berani menegakkan kejujuran, kebenaran dan keadilan.
  2. Tahan uji dan tabah di dalam menghadapi cobaan dan godaan.
  3. Tangguh/ulet dan dapat mengembangkan kemampuan di dalam melakukan usaha.
  4. Tanggap, peka, cermat dan tepat di dalam menelaah permasalahan yang dihadapi maupun dalam mengatasinya.
  5. Selalu melaksanakan “ilmu padi” dan menjauhkan diri dari sikap dan perilaku sombong atau takabur.
  6. Menggunakan keterampilan gerak efektifnya dalam perkelahian hanya karena keadaan terpaksa untuk keselamatan diri dan harga diri menurut ukuran obyektif serta keselamatan bangsa dan negara.

Pencak silat sebagai beladiri mempunyai ciri-ciri umum mempergunakan seluruh bagian tubuh dan anggota badan dari ujung jari tangan dan kaki sampai kepala dan bahkan rambutnya dapat digunakan sebagai alat pembelaan diri, dapat dilakukan dengan tangan kosong atau menggunakan senjata, akan tetapi tidak terikat pada penggunaan senjata tertentu, benda apapun dapat dijadikan senjata. Pencak silat mempunyai pandangan bahwa kita boleh mempunyai lawan, akan tetapi jangan mempunyai musuh , tidak dibenarkan untuk menyerang lebih dahulu, bahkan harus sedapat-dapatnya menghindari kontak fisik.

b. Pencak silat untuk pengembangan seni

Pada dasarnya pencak silat dapat juga dikatakan sebagai pencak silat beladiri yang indah. Pada saat diperlukan, pencak silat seni dapat difungsikan kembali ke asalnya menjadi pencak silat beladiri. Hal tersebut disebabkan karena pencak silat seni memiliki struktur yang sama dengan pencak silat beladiri. Struktur tersebut meliputi teknik-teknik sekap pasang, gerak langkah, serangan dan belaan sebagai satu kesatuan.
Perbedaan pencak silat seni dengan pencak silat beladiri terletak pada nilai, orientasi, papakem, dan ukuran yang diterapkan pada pelaksanaannya. Pelaksanaan pencak silat beladiri bernilai teknis, orientasinya efektif, praktis, dan taktis. Papakemnya logika, yakni urutan tentang pelaksanaan sesuatu dengan menggunakan penalaran atau perhitungan akal sehat. Ukurannya adalah obyektif. Sedangkan pencak silat seni bernilai estetis. Orientasinya keindahan dalam arti luas, yang meliputi keselarasan dan keserasian. Papakemnya estetika, yakni disiplin atau aturan tentang pelaksanaan sesuatu secara indah. Ukurannya subyektif relatif.

Berkaitan dengan nilai estetika tadi, maka pencak silat seni dapat dievaluasi berdasarkan ketentuan estetika sebagai berikut, yakni “wiraga, wirama dan wirasa” (bahasa jawa) sebagai satu kesatuan. Kata Wi mempunyai arti bermutu tinggi bagus dalam arti luas. Wiraga berarti penampilan teknik sikap dan gerak dengan rapih dan tertib. Wirama berarti penampilan teknik sikap dan gerak dengan irama yang serasi, dan jika hal itu diiringi dengan musik, ia bersifat kontekstual. Wirasa berarti penampilan teknik sikap dan gerak dengan penataan (koreografi) yang menarik.

Beladiri pencak silat bertujuan juga untuk mengembangkan aspek seni, yaitu terampil dalam gerak yang serasi dan menarik dilandasi rasa cinta kepada budaya bangsa. Hal ini berarti kesadaran untuk:

  1. Mengembangkan pencak silat sebagai budaya bangsa Indonesia yang mencerminkan nilai-nilai luhur guna memperkuat kepribadian bangsa, mempertebal rasa harga diri, dan kebanggaan nasional serta memperkokoh jiwa kesatuan.
  2. Mengembangkan nilai pencak silat yang diarahkan pada penerapan nilai-nilai kepribadian berlandaskan Pancasila.
  3. Mencegah penonjolan secara sempit nilai-nilai pencak silat  yang bersifat aliran dan kedaerahan.
  4. Menanggulangi pengaruh kebudayaan asing yang negatif.
  5. Mampu menyaring dan menyerap nilai-nilai budaya dari luar yang positif dan memang diperlukan bagi pembaharuan dalam proses pembangunan.

c. Pencak Silat Untuk Pengembangan Olahraga

Sebetulnya pertandingan pencak silat sudah ada jauh sebelum diakui secara resmi sebagai cabang olahraga. Di Jawa Timur pertandingan pencak silat diadakan pada acara pesta gilingan tebu, biasanya dimulai oleh anak-anak muda yang pemula. Caranya naik ke atas pentas berputar dengan melangkah kembangan dengan menunjukkan jari telunjuk dua, yang berarti pertandingan bersifat persahabatan dengan menggunakan cara mengambil kopiah atau selendang lawan. Siapa yang dapat mengambilnya adalah sebagai pemenang. Sayangnya pada waktu itu sulit diterima oleh kalangan pendekar, karena dianggap berbahaya dan bertentangan dengan falsafah pencak silat.

Di lain pihak, para pendekar dan perguron secara progresif mengupayakan membentuk pencak silat sebagai olahraga. Mereka berjuang keras untuk meyakinkan bahwa pencak silat perlu dikembangkan sebagai ilmu olahraga agar tidak musnah di masyarakat. Alasannya bahwa dengan berakhir masa peperangan, pencak silat sudah kehilangan peran sebagai sarana beladiri. Dalam upaya mencarikan peran baru, yang lebih sesuai dengan perkembangan zaman, pencak silat sebaiknya dipertandingkan.

Uji coba pertandingan pertama kali diadakan antar pendekar-pendekar di Stadion Kalisari, Semarang tahun 1957. Pertandingan ini menggembirakan karena berjalan dengan lancar tanpa ada kecelakaan. Namun uji coba di tempat lain tidak begitu berhasil, karena peraturan main begitu longgar dan kontak antar pesilat tidak dibatasi yang mengakibatkan banyak menimbulkan cedera, bahkan sampai mengakibatkan kematian. Selanjutnya pencak silat hanya dijadikan komoditi demonstrasi di PON ke-1 tahun 1948 sampai PON ke- VII tahun 1969. Pencak silat pertama kali tampil sebagai cabang olahraga prestasi dan dipertandingkan pada PON VIII.
Pencak silat olahraga bertujuan untuk mengembangkan aspek olahraga, yaitu terampil dalam gerak efektif untuk menjamin kesehatan jasmani dan rohani yang dilandasi hasrat hidup sehat. Hal ini berarti kesadaran untuk:

  1. Berlatih dan melaksanakan olahraga pencak silat sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
  2. Selalu menyempurnakan prestasi jika latihan dan pelaksanaan olahraga tersebut berbentuk pertandingan.
  3. Menjunjung tinggi sportivitas.

Itulah informasi mengenai tujuan dari pencak silat, semoga kita semua bisa menjaga dan melestarika apa yang telah diwariskan oleh nenek moyang kita terdahulu. Terima kasih.

Tujuan Pencak Silat Lengkap Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Ikbal H

0 komentar:

Post a Comment