Penjaskesrek

Blog ini Berisi Informasi Seputar Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan yang Cocok untuk Semua Kalangan.

Sejarah Olahraga Tinju (Boxing) Lengkap

Tinju (boxing) merupakan cabang olahraga dimana dua orang yang saling bertarung dengan menggunakan kepalan tangan yang dilapisi sarung tinji. Masing-masing mencoba untuk mendapatkan nilai lebih banyak dengan menggunakan keterampilan. Terutama pada tinju amatir, kelincahan lebih penting dari pada kekuatan.

Sejarah Lengkap Olahraga Tinju

Sejarah Tinju

Orang-orang Sumer di Mesopotamia kuno membuat pahatan-pahatan di atas batu, sementara para arkeolog (ahli purbakala) menemukan satu dari sekian pahatan tersebut menggambarkan dua petinju sedang bertarung. Atlit-atlit Yunani dan Romawi bertarung dengan tangan dibungkus kulit yang dinamakan cestus. Gladiator kuno melekatkan paku atau spike. Petinju Romawi dinamakan Pugil, dari kata inilah kita peroleh “pugilsm”, kata lain untuk tinju.

Sedikit sekali data-data tentang tinju atau berkelahi dengan kepalan tangan, pada zaman kerajaan Romawi (Roman Empire) sampai abad ke-17. Sedangkan di Inggris, nama boxing atau tinju julukan untuk suatu pertandingan, dimana orang laki-laki bertinju atau mengalahkan lawannya dengan kepalan tangan kosong tanpa dibungkus. Tahun 1917 James Figg menjadi juara pertama di Inggris. Ia akhirnya mendirikan sekolah tinju untuk para remaja di London dan orang pun mulai tertarik pada cabang olahraga baru ini.


Mereka sering bertarung untuk memperebutkan sejumlah uang, karenanya muncullah istilah “Prizefighting”. Jack Broughton adalah juara dari tahun 1743-1750 dan menggondol the First London Prize Ring Rules.

Para petinju dari era Barenuckle berdiri di ujung jari kaki dan bergulat, saling menabrak hingga satu diantaranya jatuh, dan merupakan akhir ronde. Setelah istirahat singkat, pertarungan dimulai lagi, jika satu diantaranya tidak dapat lagi melanjutkan pertarungan maka lawannya keluar sebagai pemenang. Kebanyakan pertarungan terdiri dari 50 ronde atau lebih.

Jika petinju atau pembantunya memutuskan untuk menyerah, ia dapat memberi tahu wasit dengan melemparkan handuk ke dalam ring. Inilah asal usul mulanya muncul ungkapan untuk orang yang menyerah “melempar handuk” atau “throwing the towell”.

Tahun 1865 Marquis dari Queensberry membuat peraturan, antara lain lamanya setiap ronde 3 menit dan istirahat satu menit diantara ronde. Para petinju diharuskan memakai sarung tinju dan dilarang berpegangan seperti pada gulat atau judo, dan menentukan hitungan 10 detik bagi yang terjatuh. Dengan pengambilan peraturan Queensberry, lambat laun olahraga tinju diterima kehadirannya di Amerika.

Tinju profesional yang paling menarik perhatian, adalah kelas berat John Sullivan petinju yang mengalahkan Paddy Ryan tahun 1882, merupakan kejuaraan bureknuckle yang terakhir yang terpopuler. Tahun 1892 dia di KO kan oleh James J. (Gentleemen) Corbett pada pertarungan kelas berat pertama. Pada saat itu pertarungan masih menurut peraturan Queenberry. Tahun 1908 Jack Johnson menjadi juara pertama dari kulit hitam.

Kompetisi tinju Olimpiade dan amatir di seluruh dunia diatur oleh Federasi Tinju Amatir Internasional. Di Amerika The Amateur Athletic Union adalah badan utama yang mengatur persatuan ini. Di Indonesia berada di bawah PERTINA atau KTI. Asosiasi sarung tinju emas menyelenggarakan kejuaraan amatir dan pemenangnya ikut ambil bagian dalam kejuaraan Nasional.

Tinju Di Indonesia

Tinju di Indonesia dipopulerkan oleh Tentara Hindia Belanda KNIL, terbukti dengan ring tinju yang masih ada Jasdam V Jaya dan Jasdam VII Dipenogoro, Semarang. Setelah munculnya Jack Dempesey 1920 kemudian disusul oleh Joe Louis tahun 1930-an, mulailah tinju dikenal di Jakarta.
Dalam tahun 30-an dikenal petinju-petinju Malaya, Filipina, Hongkong, seperti Joe Eagle, Johny Mortell, Tiger Dollah, Rio Gill, Louis Blanco dan lain-lain. Di Jakarta pertandingan tahun 30-an biasa diadakan di Varia Park atau Krekot dan Deca Park atau utara lapangan Monas sekarang ini. Petinju Indonesia kala itu adalah Kid Darliman Primo Usman.

Sudharto, pelajar dari Kemayoran, bersama temannya sekampung sering nongkrong di Jagamonyet. Disana petinju asal Malaya. Singapura, Hongkong dan Filipina berdiam di bawah asuhan Promotor Choong. Mereka mulai bersahabat dan Sudharto mulai mengenal dasar-dasar teknis tinju.


Tahun 1954 mulai didirikan PERTIGU (Persatuan Tinju dan Gulat) yang diketuai oleh Mendur, seorang wartawan di Jakarta. Pertinjuan dan Pergulatan yang termasuk hiburan umum, harus memperoleh rekomendasi dari organisasi ini sebelum mendapat izin dari Kepolisian.

Tahun 1958 mulailah berdiri PERTINA (Persatuan Tinju Amatir Nasional) yang diketuai oleh KP Kabul Hadinoto. Kemudian 30 Oktober 1959 dirubah kepanjangannya menjadi Persatuan Tinju Amatir Indonesia. Kejuaraan pertama diadakan di gedung olahraga IKADA tahun 1959. Tahun berikutnya di Ujung Pandang, sekaligus dengan Kongres Pertina, dimana Letkol Sudharto terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Pertina.

Tahun 1960, Indonesia sudah mengirimkan petinjunya, seperti Johny Bolang, Oi Hok Tiang dan Wahyu, mengikuti Olimpiacs Games di Roma. Pertandingan tinju tahun 1961 di Ikada, Bandung PON V, Indonesia lawan Singapura, pada umumnya dimenangkan oleh Indonesia.

Berturut-turut setiap tahun, Indonesia terus mencatat kemajuan, dan sampai tahun 1963 dalam Ganefo I. Tahun 1964 kejuaraan nasional di Yogyakarta, dan terpilihnya Bambang Sumulyo menjadi petinju terbaik, dalam memperebutkan piala bergilir Hamengkubowono IX.

Meskipun Gestapu meletus di tahun 1965, Pertina dapat melangsungkan event pentingnya. Yaitu kejuaraan Tinju Nasional di Senayan, Perwil di Medan, Bandung, Surabaya dan Ujung Pandang, serta mengirimkan 3 petinju ke Asean Games di Bangkok. Yaitu Idwan Anwar (terbang perak), Said Fidal (welter ringan perak) dan Frans Soplanit.


Tahun 1968 sepi dari kegiatan tahun 1969 PON di Surabaya dan 1970 Kejuaraan Tinju Asia ke 4, Indonesia merebut 2 perak melalui Idwan Anwar dan Jootje Waney.

Perlengkapan Tinju

Para petinju mengenakan sarung tangan yang terbuat dari kulit yang diberi lapik dengan karet spon. Sarung tinju ini beratnya antara 230-280 gram. Tangan petinju dibalut/bungkus dengan kain katun lembut atau linen untuk perlindungan. Petinju amatir dapat mengenakan Headgear untuk melindungi kepala dan telinga. Semua petinju memakai Rubber Mout plece (karet yang dimasukkan ke dalam mulut untuk mencegah terjadinya luka terhadap bibir dan melindungi gigi).

Dalam tinju seperti juga dalam olahraga kontak fisik lainnya, rawan terhadap terjadinya cedera. Tahun 1938 di Amerika pernah dilarang oleh Society of State Derectors of Phisical and Health Education. Namun banyak orang mengatakan kalau bertinju didukung oleh peraturan yang pantas dan pengawasan yang baik, maka tinju merupakan sebuah cabang olahraga yang aman.

Tempat berlangsung atau dipentaskannya tinju disebut dengan istilah Ring. Umumnya berukuran 4,9 sampai 6,1 meter persegi, yang dilingkari dengan tali (muslin rope). Tiga utas tali yang melingkari ring, masing-masing setinggi 0,6 0,9 dan 1,2 meter di atas lantai. Lantai yang ditutupi kanvas di atas lapisan yang teba, demikian juga tiang-tiang yang ada pada setiap sudut ring.

Aturan Pertandingan

Satu babak tinju amatir, umumnya hanya dua menit atau kurang. Pada pertandingan profesional dan sebahagian pertandingan amatir internasional lama setiap babaknya 3 menit dengan istirahat 1 menit diantara babak/ronde. Selama istirahat petinju kembali ke sudut masing-masing dan memperoleh perawatan. Sebagian besar petandingan amatir berlangsung 3 ronde. Kejuaraan profesional berlangsung 12 ronde. Penjaga waktu, menandai waktu dimulai dan berakhirnya ronde dengan cara membunyikan bel atau gong. Wasit adalah orang ketiga yang paling penting di atas ring selama berlangsungnya pertarungan. Dia akan melihat apakah peraturan dipatuhi dan memisahkan kedua petinju bila terjadi clinc (rangkulan). Pukulan di bawah tali pinggang, di atas ginjal atau belakang leher (rabbit punches) adalah suatu kesalahan. Demikian juga dorongan dan pemukulan dengan perut tangan atau memukul lawan sewaktu ia terjatuh (di atas lantai), saat mau bangun, di luar atau tergantung lesu pada tali.

Jika petinju dipukul jatuh, lawan yang memukul harus pergi ke sudut netral yaitu sudut ring yang tidak ditempati kedua petinju. Yang terjatuh harus berdiri sebelum hitungan wasit sampai sepuluh dengan interval satu detik. Jika tidak, lawannya akan dinyatakan keluar sebagai pemenang dengan Knockout (KO). Wasit diharapkan menghentikan pertandingan kapan saja dia merasa salah satu petinju mengalami luka yang berat dan bila dilanjutkan akan berakibat fatal. Pertarungan yang berakhir dengan cara seperti ini dinamakan Tecknical Knockout (TKO). Untuk ini diperlukan seorang dokter (dokter ring) untuk memutuskan baik tidaknya seorang petinju untuk melanjutkan pertarungan. Jika seorang petinju dalam salah satu ronde yang sama, terjatuh sebanyak 3 kali, maka ia dinyatakan kalah dengan TKO. Namun pertarungan ini tidak berlaku bagi pertarungan Kejuaraan profesional.

Jika tidak terjadi Knockout, biasanya dua orang hakim akan menentukan siapa yang keluar sebagai pemenang atas dasar ronde yang dimenangkan atau atas dasar angka yang dikumpulkan petinju. Kedua hakim tersebut mengamati dengan cermat dan mencatat efektifitas pukulan petinju, caranya bertahan serta keagresifannya. Kesalahan-kesalahan kecil seperti memukul sewaktu terjadi clinch, biasanya tidak terlalu diperhitungkan.

Beberapa  Catatan Tinju

William Harrison (Jack) Denpsey memberikan “zaman keemasan” bagi pertinjuan dengan memukul KO Jess Wilard tahun 1919. Pertarungannya mulai menarik banyak penonton. James J. (Gene) Turney menang atas Dempsey tahun 1926 di hadapan sejumlah 120.000 penonton.

Joe Louis meng-KO kan James J. Braddock tahun 1937 untuk merebut mahkota kelas berat. Dia memenangkan pertandingan-pertandingan dengan serangkaian KO. Dia mengundurkan diri alias gantung sarung tinju tahun 1949 sebagai petinju yang tak terkalahkan selama 26 pertandingan. Tahun 1950 Louis mencoba kembali untuk meraih kejuaraan, tapi tidak berhasil.

Rocky Marciano mengundurkan diri sebagai juara tahun 1956. Ployd Patterson menjadi juara tahun itu dan kalah atas Ingemar Johanson tahun 1959. Selanjutnya Patterson meng-KO Jahanson tahun 1960, yang merupakan rekor pertama dalam perebutan kembali kelas berat.

Muhammad Ali untuk pertama kali meraih juara kelas berat tahun 1964. Tahun 1967 ia menolak untuk melaksanakan wajib militer dan gelarnya dicabut. Dia kembali memperoleh kejuaraan pada tahun 1974 dengan meng-KO George Foreman, Leon Spink memenangkan kejuaraan dari Ali pada bulan februari 1978. Tapi kemudian pada tahun yang sama Ali mengalahkan Spink, makanya menjadi orang pertama yang memegang juara kelas berat sebanyak tiga kali.

Petinju perofesional adalah mereka yang bertanding untuk memperbutkan hadiah uang. Kegiatan mereka diatur oleh suatu badan seperti World Boxing Assosiation (WBA) dan World Boxing Council (WBC) atau International Boxing Federation (IBF). Ketiga badan ini sering berselisih faham tentang penentuan juara, sehingga masing-masing mempunyai juara tersendiri. Juara kelas WBA misalnya, belum tentu diakui WBC dan seterusnya. Untuk menjadi juara dari masing-masing komisi tinju ini dipertemukan, maka yang keluar sebagai pemenang diberikan gelar dengan Undisputed Champion dengan kata lain juara sejati.

Nah demikianlah informasi seputar sejarah olahraga tinju, semoga bisa memberikan manfaat bagi kita semua. Sekian dan terima kasih.

Sejarah Olahraga Tinju (Boxing) Lengkap Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Ikbal H

0 komentar:

Post a Comment