Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan

Blog ini Berisi Informasi Seputar Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan yang Cocok untuk Semua Kalangan.

Konsep Dasar PJOK: Prinsip, Tujuan, dan Keterampilan Gerak Dasar (Lokomotor, Non-Lokomotor, Manipulatif)

Aktivitas Gerak Dasar

Siedentop (1990), seorang pakar Pendidikan Jasmani dari Amerika Serikat, mengatakan bahwa dewasa ini Pendidikan Jasmani dapat diterima secara luas sebagai model "pendidikan melalui aktivitas jasmani" yang berkembang sebagai akibat dari merebaknya telaahan pendidikan gerak pada akhir abad ke -20 yang menekankan pada kebugaran jasmani, penguasaan keterampilan, pengetahuan, dan perkembangan sosial. Secara ringkas dapat dikatakan bahwa: "Pendidikan Jasmani adalah pendidikan dari, tentang, dan melalui aktivitas jasmani".



Menurut Jesse Feiring Williams (1999; dalam Freeman, 2001), Pendidikan Jasmani adalah sejumlah aktivitas jasmani manusia yang terpilih sehingga dilaksanakan untuk mendapatkan hasil yang diinginkan. Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) adalah salah satu disiplin ilmu yang masuk dalam kurikulum sekolah, mulai tingkat dasar sampai di sekolah menengah, bahkan ada beberapa program studi di perguruan tinggi karena diyakini PJOK dapat mencapai tujuan pendidikan nasional. Sebagai suatu disiplin ilmu yang dipercaya dapat mencapai tujuan pendidikan, maka para pengambil kebijakan harus bisa merancang kurikulum PJOK agar dapat mencapai tujuan pendidikan nasional tersebut.

Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan atau lebih sering disebut Pendidikan Jasmani untuk beberapa negara di dunia, merupakan bagian yang integral dari pendidikan secara keseluruhan. Pendidikan Jasmani meliputi tiga ranah tujuan pendidikan yang sudah dirumuskan oleh Benjamin S. Bloom, yaitu; ranah kognitif, psikomotor dan afektif. Pendidikan Jasmani adalah suatu model pendidikan yang bercirikan melalui aktivitas jasmani menjadi sentralnya. Melalui aktivitas jasmani yang dilakukan, peserta didik dituntut untuk mencapai ketiga ranah tujuan pendidikan di atas.

Karena begitu banyak aktivitas jasmani yang bisa ditampilkan manusia terkhusus oleh peserta didik, maka dipilihlah aktivitas jasmani apa saja yang akan diberikan. Para ahli kurikulum Pendidikan Jasmani nasional sudah menetapkan kurikulum untuk PJOK mulai dari tingkat pendidikan tingkat dasar sampai tingkat menengah. Ada tujuh komponen yang dicantumkan dalam kurikulum PJOK di sekolah. Ketujuh komponen tersebut adalah sebagai berikut:

1. Aktivitas atletik

2. Aktivitas olahraga dan permainan

3. Aktivitas senam

4. Aktivitas akuatik

5. Aktivitas beladiri

6. Aktivitas pengembangan

7. Kesehatan

Pada kegiatan belajar kali ini, materi yang akan diberikan adalah yang berhubungan dengan aktivitas keterampilan gerak dasar, olahraga dan permainan. Tepatnya pada bagian berikut secara berurut akan dibahas mengenai: keterampilan gerak dasar, olahraga permainan yang dikelompokkan menjadi dua yaitu permainan bola besar dan permainan bola kecil. Untuk materi keterampilan gerak dasar meliputi; gerak lokomotor, gerak non lokomotor, dan gerak manipulatif. Sedangkan untuk permainan bola besar meliputi; permainan sepakbola, bolabasket, bolavoli. Selanjutnya akan dijelaskan materi untuk perminan bola kecil yang meliputi; bulutangkis dan tenis meja.

Untuk materi permainan bola besar yang diadopsi dari cabang olahraga, perlu diberikan penegasan bahwa olahraga permainan bola besar maupun kecil yang diberikan harus disesuaikan dengan kebutuhan, sarana dan prasarana di sekolah, serta kompetensi peserta didik. Artinya, pemberian materi Pendidikan Jasmani dalam bentuk keterampilan cabang olahraga sepakbola, bolabasket, bolavoli, bulutangkis dan tenismeja harus disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik, sarana dan prasarana, waktu yang tersedia dan situasi dan kondisi lainnya yang ikut mempengaruhi proses belajar mengajar di sekolah.

Prinsip Pokok Pendidikan Jasmani

Terdapat 13 prinsip pokok dalam Pendidikan Jasmani (Zeigler, 2009: 28-31) untuk dapat meningkatkan kualitas hidup manusia:

1. Reversibility, bahwa setiap manusia akan ada pada masa puncak dan juga akan kembali menurun, karena itu aktivitas jasmani dilakukan untuk paling tidak mempertahankan kondisi fisiknya hingga usianya berakhir.

2. Overload, tubuh manusia otot-ototnya harus dilatih dengan beban lebih dari normal agar dapat menjaga kualitas tubuhnya.

3. Flexibility, manusia harus secara teratur memposisikan sendinya melalui berbagai gerakan, karena makin bertambah usia makin berkurang fleksibilitasnya.

4. Bone density, aktivitas jasmani sepanjang hidup mempertahankan kepadatan tulang seseorang.

5. Gravity, memepertahankan kekuatan kelompok otot sepanjang hidup, sambil berdiri atau duduk, membantu perjuangan orang melawan gaya gravitasi yang bekerja terus untuk memecahkan struktur tubuh.

6. Relaxation, hidup di dunia yang makin kompleks perlu keterampilan relaksasi. Aktivitas jasmani dapat digunakan sebagai proses relaksasi.

7. Aesthetic, setiap orang secara alamiah ingin terlihat baik untuk dirinya sendiri maupun orang lain dan aktivitas jasmani dapat menjadikan penampilan seseorang terlihat baik.

8. Integration, aktivitas jasmani memberi kesempatan bagi individu untuk melibatkan secara penuh seluruh bagian dirinya baik fisik maupun psikis.

9. Integrity, integritas kegiatan psiko fisik harus secara etis sesuai dengan standar masyarakat (kesatuan tubuh dan pikiran manusia dalam aktivitas jasmani harus mengedepankan fairplay, kejujuran, dan kepedulian terhadap orang lain).

10. Priority of the person, aktivitas jasmani mengutamakan kesejahteraan individu dari pada organisasi, olahraga sebagai pelayan sosial.

11. Live life to its fullest, aktivitas jasmani yang cukup berat dan dilakukan secara teratur, membantu seseorang untuk memenuhi tugas sehari-hari dan tuntutan mendadak yang tak terduga yang mungkin diperlukan untuk terus hidup dan melindungi diri dari bahaya.

12. Fun and pleasure, manusia biasanya merupakan pencari kesenangan dan kenikmnatan, dan banyak kesempatan untuk kesenangan dicapai melalui aktivitas jasmani. Kesempatan memperoleh kesenangan akan hilang dari kehidupan seseorang jika tidak mempertahankan tingkat kebugaran jasmaninya.

13. Longevity, prinsip panjang umur menegaskan bahwa aktivitas jasmani secara teratur sepanjang hidup, dapat membantu manusia hidup lebih lama.

Selain prinsip-prinsip pokok, ada beberapa prinsip umum dalam materi PJOK kepada siswa. Prinsip-prinsip umum tersebut tersebut adalah sebagai berikut:

1. Pendidikan Jasmani pada hakikatnya adalah proses pendidikan yang memanfaatkan aktivitas fisik

2. Model pembelajaran Pendidikan Jasmani tidak harus terpusat pada guru tetapi pada siswa

3. Orientasi pembelajaran harus disesuaikan dengan perkembangan anak, isi dan materi serta cara penyampaian harus menarik dan menyenangkan,

4. Pendekatan holistik tubuh-jiwa ini termasuk pula penekanan pada ketiga domain kependidikan: psikomotor, kognitif dan afektif.

Selain itu ada juga empat tujuan Pendidikan Jasmani yang disampaikan Bucher’s dalam Siedentop (1990: 216) adalah sebagai berikut:

1. Tujuan pengembangan fisik, berkaitan dengan kegiatan program yang membangun kekuatan fisik secara individu melalui pengembangan dari berbagai sistem organ tubuh

2. Tujuan pengembangan motorik, berkaitan dengan menjadikan gagasan fisik bermanfaat dan dengan sedikit pengeluaran energi yang mungkin, dan estetika dalam gerakan ini.

3. Tujuan pengembangan mental, berkaitan dengan akumulasi dari tubuh pengetahuan dan kemampuan berpikir untuk menafsirkan pengetahuan

4. Tujuan pengembangan sosial, berkaitan dengan membantu individu dalam membuat penyesuaian pribadi, kelompok sebagai anggota masyarakat.

Dalam versi yang lain juga ada empat konsep dalam memberikan materi PJOK di sekolah:

1. Komponen organik, merupakan gambaran aspek fisik dan psikomotor dan harus dicapai pada setiap proses pembelajaran, yang meliputi; kapasitas fungsional dari organ-organ seperti daya tahan jantung dan otot.

2. Komponen neuromuskuler, merupakan gambaran tentang aspek kemampuan unjuk kerja keterampilan gerak yang didasari oleh kelenturan, kelincahan, keseimbangan, kecepatan dan lain-lain.

3. Komponen intelektual, merupakan gambaran yang dapat dipadankan dengan kognitif.

4. Komponen emosional, merupakan gambaran yang dapat dipadankan dengan afektif.

Dari keempat konsep Pendidikan Jasmani yang telah disampaikan, dikenal pula kemudian istilah learning by moving. Secara harfiah, hal itu berarti belajar melalui gerak. Makna yang lebih luas adalah kita belajar melalui gerak dengan Pendidikan Jasmani. Bukan belajar untuk bergerak yang selama ini menjadi persepsi kebanyakan orang.

Kemudian, dari keempat konsep tersebut dapat disederhanakan menjadi tiga konsep saja, yaitu:

1. Mengembangkan aspek psikomotorik (keterampilan fisik);

2. Mengembangkan aspek kognitif (keterampilan intelektual);

3. Mengembangkan aspek afektif (keterampilan moral, emosional, sosial dan spiritual).

Berdasarkan konsep learning by moving, Pendidikan Jasmani memiliki tujuan dan fungsi yang tentunya berbeda dengan ilmu pengetahuan yang lain. Adapaun tujuan Pendidikan Jasmani adalah sebagai berikut:

1. Meletakkan landasan karakter yang kuat melalui internalisasi nilai dalam Pendidikan Jasmani

2. Membangun landasan kepribadian yang kuat, sikap cinta damai, sikap sosial dan toleransi dalam konteks kemajemukan budaya, etnis dan agama

3. Menumbuhkan kemampuan berfikir kritis melalui tugas-tugas pembelajaran Pendidikan Jasmani

4. Mengembangkan sikap sportif, jujur, disiplin, bertanggung jawab, kerjasama, percaya diri, dan demokratis melalui aktivitas jasmani

5. Mengembangkan keterampilan gerak dan keterampilan teknik serta strategi berbagai permainan dan olahraga, aktivitas pengembangan, senam, aktivitas ritmik, akuatik (aktivitas air) dan pendidikan luar kelas (Outdoor education)

6. Mengembangkan keterampilan pengelolaan diri dalam upaya pengembangan dan pemeliharaan kebugaran jasmani serta pola hidup sehat melalui berbagai aktivitas jasmani

7. Mengembangkan keterampilan untuk menjaga keselamatan diri sendiri dan orang lain

8. Mengetahui dan memahami konsep aktivitas jasmani sebagai informasi untuk mencapai kesehatan, kebugaran dan pola hidup sehat

9. Mampu mengisi waktu luang dengan aktivitas jasmani yang bersifat rekreatif. 

Selanjutnya adalah fungsi Pendidikan Jasmani, yang dapat dibedakan menjadi beberapa aspek, diantaranya adalah sebagai berikut:

a. Aspek organik

b. Aspek neuromuskuler

c. Aspek perseptual

d. Aspek kognitif

e. Aspek sosial

f. Aspek emosional

Keterampilan Gerak Dasar (Fundamental Motor Skill)

Keterampilan merupakan dasar dari suatu kemampuan seseorang menyelesaikan tugas atau pekerjaan. Sedang menurut Guthrie dalam Schmidt & Lee (2014) keterampilan merupakan kemampuan untuk membuat hasil akhir dengan kepastian yang maksimum dan energi dan waktu yang minimum. Dengan demikian, Schmidt & Lee (2014, hlm 37) menyimpulkan singkatnya, keterampilan umumnya melibatkan mencapai beberapa tujuan, yaitu (1) memaksimalkan kepastian pencapaian tujuan, (2) meminimalkan biaya fisik-mental dan energi kinerja, (3) dan meminimalkan waktu yang digunakan.

Gerak merupakan salah satu ciri dari makhluk hidup, selain ciri-ciri yang lain, seperti; makan, peka terhadap rangsangan, bernapas, berkembang biak, mengeluarkan zat sisa, melakukan metabolisme dan beradaptasi. Oleh karena itu, manusia sebagai makhluk hidup tidak bisa dipisahkan dengan gerak. Gerak adalah sesuatu yang ditampilkan oleh manusia secara nyata dan dapat diamati. Merupakan suatu kenyataan dalam kehidupan sehari-hari bahwa melalui gerak manusia berusaha untuk dapat meraih sesuatu sesuai dengan kebutuhan dan berbagai motif yang melatarbelakanginya.

Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 pasal 3 tentang Sistem Pendidikan Nasional, tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Pendidikan Jasmani adalah bagian yang integral dari pendidikan secara keseluruhan seperti yang dipaparkan di atas. Hal ini dapat ditafsirkan bahwa Pendidikan Jasmani adalah salah satu komponen dalam proses pendidikan yang dilakukan untuk mencapai tujuan pendidikan.

Pendidikan Jasmani adalah proses pendidikan yang dilakukan oleh guru terhadap peserta didik melalui aktivitas gerak. Pendidikan Jasmani di sekolah pada hakekatnya mempunyai arti, peran dan fungsi yang amat vital dan strategis dalam upaya menciptakan peserta didik yang sehat dan dinamis. Lebih tegas lagi, Ateng (1992: 8) menyatakan bahwa tak ada Pendidikan Jasmani yang tidak bertujuan pendidikan dan sebaliknya tidak ada pendidikan yang lengkap tanpa Pendidikan Jasmani, sebab gerak adalah dasar untuk belajar mengenal dunia dan dirinya sendiri. Untuk memberi pemahaman yang lebih dalam, UNESCO dalam International Charter of Physical Education and Sport memberikan batasan bahwa Pendidikan Jasmani adalah suatu proses pendidikan seseorang sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat yang dilakukan secara sadar dan sistematik melalui kegiatan jasmani dalam rangka memperoleh peningkatan kemampuan dan keterampilan jasmani, pertumbuhan kecerdasan dan pembentukan watak.

Konsep tentang gerakan manusia tidak terlepas dari konsep gerakan pada umumnya. Gerakan adalah aksi atau proses perubahan letak atau posisi ditinjau dari suatu titik tertentu sebagai pedomannya (Sugiyanto, dkk: 1997: 283). Senada dengan itu, Kiram (2019: 9) menyatakan bahwa gerak adalah suatu proses perpindahan suatu benda dari suatu posisi ke posisi lain atau dari suatu tempat ke tempat lain, yang dapat diamati secara objektif. Konsekuensi dari batasan tersebut tentu perpindahan benda tersebut dapat diukur dalam dimensi ruang dan waktu. Dimensi ruang dimaksudkan di sini adalah akan mengalami perubahan luas, panjang atau pun lebar ruangan yang diakibatkannya. Sedangkan dimensi waktu di sini diartikan proses gerak tersebut membutuhkan kecepatan atau percepatan. Sugiyanto dkk (1997: 283) memperjelas bahwa konsep tentang gerakan selalu berhubungan dengan konsep tentang ruang, gaya dan waktu. Dalam konsep ruang dikenal adanya arah kanan, kiri, depan, belakang, atas dan bawah. Selain itu juga dikenal adanya jarak yaitu dekat, agak jauh dan jauh. Sedangkan konsep gaya berkenaan dengan sebab gaya yang mempengaruhi, dimana gaya adalah pemacu gerakan. Sementara konsep waktu adalah dikarenakan sebagai akibat dari proses gerakan yang terjadi pasti membutuhkan waktu, sebentar atau lama.

Secara umum, aktivitas gerak manusia dapat dibagi dalam berbagai bentuk tergantung dari sudut pandang apa dalam mengelompokkannya. Sugiyanto dkk. (1997: 283) mengelompokkan gerakan berdasarkan sudut pandang:

1. Gerakan ditinjau dari segi mekanis

2. Gerakan ditinjau dari sudut muskuler

3. Gerakan ditinjau dari suatu sistem

4. Gerakan ditinjau dari tugas otot-otot rangka

Sesuai dengan materi dalam modul ini, gerakan hanya akan ditinjau dari sudut pandang tugas otot-otot rangka yang dapat dikelompokkan menjadi 4 bagian:

a. Tugas menopang tubuh atau suatu beban

b. Tugas menahan tubuh atau menggantung

c. Tugas menggerakkan bagian tubuh atau tubuh secara keseluruhan dan menggerakkan benda

d. Tugas menahan benturan

Berdasarkan ke-4 tipe tugas otot tersebut, masing-masing bisa dirinci dan diberikan contoh posisi dan gerakan tubuh yang dihasilkannya. Harrow (1972: 52) mengemukakan bahwa gerak dasar merupakan pola gerak yang inheren yang membentuk dasar-dasar untuk keterampilan gerak yang kompleks, yang meliputi (a) gerak lokomotor; (b) gerak non-lokomotor; dan (c) gerak manipulatif. Dalam bahasa yang lebih familiar aktivitas gerak yang mengerakkan seluruh tubuh disebut dengan gerak lokomotor, sedangkan aktivitas gerak yang hanya menggerakkan bagian tubuh disebut dengan aktivitas gerak non lokomotor.

Selanjutnya aktivitas gerak yang berkenaan dengan menggerakkan benda dinamakan dan aktivitas gerak manipulatif.

a. Gerak lokomotor

Dalam konteks Pendidikan Jasmani, gerak lokomotor ini tentu dimaksudkan suatu proses berpindahnya seluruh tubuh seseorang dari suatu tempat ke tempat lain. Gerakan berpindahnya seluruh tubuh dari suatu posisi ke posisi lain, Sugiyanto dkk. (1997: 287) membedakannya atas beberapa bagian, yaitu:

- Menggerakkan tubuh secara keseluruhan dengan tumpuan permukaan yang padat, contohnya adalah; berjalan, berlari, melompat, merangkak, mengguling, salto dan meroda.

- Menggerakkan tubuh secara keseluruhan pada suatu alat yang bisa bergerak, contohnya; bersepeda, bersepatu roda, dan mendayung

- Menggerakkan tubuh secara keseluruhan di air, contohnya berenang dan menyelam

b. Gerak non lokomotor

Gerak non lokomotor adalah suatu proses berpindahnya elemen tubuh tertentu dari suatu posisi ke posisi lain, namun secara keseluruhan tubuh tetap berada pada tempat yang sama. Sugiyanto dkk. (1997: 287) memaparkan tugas gerak non-lokomotor ini seperti sebagai berikut; menekuk leher, memutar kepala, mengayun lengan, menekuk siku, membungkukkan badan, mengayun kaki, menekuk lutut, memutar pergelangan kaki, dan menekuk jari-jari.

c. Gerak manipulatif

Gerak manipulatif adalah gerak yang dilakukan dengan menggerakkan suatu objek atau benda. Menggerakkan benda atau objek ini dapat dibagi atas dua bagian, yaitu;

(i) Menggerakkan benda dengan gaya yang secara langsung menyentuh bendanya, contoh; melemparkan bola, menendang bola, mengayunkan raket, mendorong atau menarik tubuh lawan pada judo

(ii) Menggerakan benda dengan gaya yang dikenakan pada benda secara tidak langsung, contohnya; menembakkan peluru menggunakan senapan, membidikkan anak panah menggunakan busur, menggerakkan sampan dengan mendayung

Tiga macam gerakan terakhir, yaitu menembakkan peluru dengan senapan, panahan dan mendayung sampan memang secara eksplisit jarang kita temui dalam pembelajaran PJOK, tetapi gerakan seperti ini bisa saja dilakukan dengan menyesuaikan dengan jenis permainan yang dikembangkan atau dikreasikan, seperti permainan tradisional. Karena dalam pembelajaran PJOK, seorang guru dapat memodifikasi dan mengembangkan kreativitas dalam pembelajarannya.

Setelah memahami tentang batasan tentang gerak, maka dalam Pendidikan Jasmani sangat penting untuk memahami bagaimana gerak tersebut dilakukan. Sebelum seseorang melakukan gerak, terlebih dahulu didahului dengan proses rangsagan (stimulus) menerpa panca indera (reseptor) seperti melalui mata (visual), telinga (audio), kulit (taktil) ataupun lidah (rasa). Rohendi dan Suwandar (2017: 96) menyatakan bahwa kita terus menerus dibombardir dengan rangsangan yang terdeteksi melalui komponen sistem sataf yang dikenal sebagai reseptor sensorik. Metode yang berguna untuk mengklasifikasikan reseptor ini adalah dengan menggunakan lokasi atau lebih spesifik lagi dengan lokasi rangsangan. Selanjutnya Rohendi dan Suwandar (2017: 96) menyatakan bahwa reseptor dikalsifikasi atas dua macam yaitu exteroreceptor dan interoreceptor. Exteroreceptor untuk mendeteksi rangsangan di luar tubuh dan memberikan informasi tentang lingkungan. Sedangkan interoreseptor adalah mendeteksi rangsangan dari viscera internal dan memberikan informasi tentang lingkungan internal yang menyebabkan perasaan seperti kelaparan dan mual.

Stimulus yang datang tersebut akan diterima oleh reseptor untuk seterusnya dikirim melalu saraf aferen ke otak dan rangsangan tersebut diolah dalam otak dan pada akhirnya akan ada suatu keputusan oleh otak. Keputusan yang diambil tersebut selanjutnya dikirim melalui saraf eferen ke motorik dalam hal ini otot, sehingga terjadilah gerakan.

Ada dua istilah yang sering muncul dalam Pendidikan Jasmani ataupun olahraga yaitu gerak dan motorik. Batasan tentang gerak sudah dibahas pada bagian terdahulu, lantas apakah gerak tersebut sama dengan motorik. Sedangkan motorik menurut Kiram (2019: 11) adalah suatu rangkaian peristiwa laten yang tidak dapat diamati dari luar. Lebih detail lagi motorik dapat diartikan sebagai keseluruhan proses-proses pengendalian dan pengaturan fungsi-fungsi organ tubuh baik secara fisiologis maupun secara psikis yang menyebabkan terjadinya suatu gerak. Gerak dapat diamati dengan jelas dan kasat mata sedangkan motorik adalah suatu proses yang tidak selalu bisa diamati.

Berdasarkan materi yang sudah dipaparkan di atas, maka sebagai seorang guru haruslah mampu untuk mendisain dan mengembangkan keterampilan gerak dasar, baik yang berupa gerakan lokomotor, non lokomotor maupun gerakan manipulatif. Kemampuan berimajinasi dan daya kreativitas harus dibangkitkan untuk mengajak peserta didik untuk memahami dan menciptakan gerakan-gerakan keterampilan gerak dasar dalam mengembangkan daya nalar, keterampilan motorik, dan perilaku peserta didik ke arah yang lebih baik.

Konsep Dasar PJOK: Prinsip, Tujuan, dan Keterampilan Gerak Dasar (Lokomotor, Non-Lokomotor, Manipulatif) Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Ikbal H

0 komentar:

Posting Komentar