Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan

Blog ini Berisi Informasi Seputar Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan yang Cocok untuk Semua Kalangan.

Panduan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) PJOK: Pengertian, Siklus, dan Cara Menyusunnya

Meningkatkan Profesionalisme Guru Melalui Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

Bagi seorang guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK), tantangan di lapangan sering kali muncul dalam bentuk rendahnya motivasi siswa, keterbatasan alat, hingga model pembelajaran yang kurang variatif. Untuk mengatasi masalah tersebut secara ilmiah dan sistematis, Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau Classroom Action Research hadir sebagai solusi praktis yang dilakukan langsung oleh guru di kelasnya sendiri.



PTK bukan sekadar riset formal untuk membangun teori, melainkan upaya reflektif untuk memperbaiki kinerja pengajaran secara kontekstual. Dengan melakukan siklus perencanaan, tindakan, pengamatan, hingga refleksi, guru dapat menjembatani kesenjangan antara teori pendidikan dengan praktik nyata di lapangan. Artikel ini akan mengupas tuntas konsep dasar PTK, manfaatnya bagi profesionalisme guru, serta langkah-langkah praktis melakukan siklus penelitian dalam lingkup pendidikan jasmani.

Baca juga: Teknik Jatuhan dalam Pencak Silat

Pengertian Penelitian Tindakan Kelas

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) berkait erat dengan persoalan praktik pembelajaran sehari-hari yang dihadapi oleh guru. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) penelitian yang dilakukan oleh guru di dalam kelasnya sendiri melalui refleksi diri, dengan tujuan untuk memperbaiki kenerjanya sebagai guru, sehingga diharapatkan tujuan Penelitian Tindakan Kelas dapat meningkatkan hasil belajar siswa, atau peserta didik (I.G.A.K Wardani, 2007). PTK berupaya meningkatkan dan mengembangkan profesionalisme guru dalam menunaikan tugasnya. Dalam literatur berbahasa Inggris, PTK dikenal dengan istilah clasroom action research, yang disingkat CAR. 

PTK atau CAR menjadi perhatian para ahli pendidikan dunia, seiring dengan perubahan pola pandang masyarakat terhadap tugas pendidik sebagai profesi yang tidak lagi inferior Para praktisi pendidikan dunia berupaya memposisikan pekerjaan guru sebagai profesi yang sejajar dengan profesi-profesi yang lainnya. Kalau dulu guru dianggap sebagai semiprofesi, saat ini pekerjaan guru sedang digiring untuk menjadi profesi yang seutuhnya. Classroom action research (CAR) adalah action research yang dilaksanakan oleh guru di dalam kelas. Action research pada hakikatnya merupakan rangkaian “riset tindakan-riset yang dilakukan secara siklik, dalam rangka memecahkan masalah, sampai masalah itu terpecahkan. Ada beberapa jenis action research, dua di antaranya adalah individual action research dan collaborative action research (CAR). Jadi CAR bisa berarti dua hal, yaitu classroom action research dan collaborative action research; dua-duanya merujuk pada hal yang sama.

Action research termasuk penelitian kualitatif walaupun data yang dikumpulkan bisa saja bersifat kuantitatif. Action research berbeda dengan penelitian formal, yang bertujuan untuk menguji hipotesis dan membangun teori yang bersifat umum (general). Action research lebih bertujuan untuk memperbaiki kinerja, sifatnya kontekstual dan hasilnya tidak untuk digeneralisasi. Namun demikian hasil action research dapat saja diterapkan oleh orang lain yang mempunyai latar yang mirip dengan yang dimliki peneliti.

Selain alasan di atas, PTK diperhatikan oleh para peneliti, berhubung penelitian ini mampu menawarkan cara dan prosedur baru untuk memperbaiki dan meningkatkan profesionalisme guru dalam proses belajar mengajar di kelas lebih lanjut dinyatakan oleh Sukanti (2008) Penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang dilaksanakan berdasarkan permasalahan yang dijumpai guru dalam kegiatan pembelajaran. Guru melakukan penelitian untuk mengatasi permasalahannya sendiri.

Praktik pembelajaran yang dilakukannya di dalam kelas. Dengan penelitian tindakan kelas, guru melakukan penelitian terhadap siswa dilihat dari aspek interaksinya dalam proses pembelajaran. Sehingga, guru dapat memperbaiki praktik pembelajaran agar menjadi lebih efektif. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dapat menjembatani kesenjangan antara teori dan praktik pendidikan. Hal ini dapat terjadi, karena setelah meneliti kegiatannya di kelas—dengan melibatkan siswanya melalui tindakan-tindakannya yang direncanakan, dilaksanakan, dan dievaluasi guru akan memperoleh umpan balik (feedback) yang sistematik mengenai apa yang selama ini dilakukan dalam kegiatan pembelajaran.

Dengan demikian, seorang guru dapat membuktikan apakah suatu teori belajar- mengajar dapat diterapkan dengan baik di kelas yang ia miliki atau tidak? Bila ada teori yang tidak cocok, maka ia harus segera menggantinya dengan teori yang lebih cocok lagi. Dalam PTK, seorang guru dapat menyaksikan, merasakan, mencermati, dan menghayati apakah praktik praktik pembelajaran yang selama ini dilakukan memiliki efek (efektif) atau tidak?

Oleh sebab itu, ketika seorang guru mengetahui—tentunya hasil pengamatan serius dan cermat—bahwa penugasan siswa yang ketat tidak menghasilkan apa-apa pada siswa, kecuali stress, maka dia bisa mengganti penugasan tersebut dengan cara yang lebih baik. Penggantian ini tentunya harus didasari oleh hasil pengamatan atau penelitian. Sebaliknya, bila seorang guru justeru menemukan bahwa praktik dan metode pembelajaran yang diberikan olehnya kepada siswa menghasilkan efek yang positif, ia dapat mempertahankannya. Dengan PTK, seorang guru dapat mencoba berbagai tindakan yang berupa program pembelajaran tertentu, seperti mencoba menggunakan bahan bacaan yang memiliki gambar dan ceritera yang menarik, dan caracara lain yang bisa menunjang efektifitas pembelajaran. Kelas yang dimaksud dalam istilah PTK ini tidak hanya dalam pengetian ruangan tertutup.

Pengertian kelas dalam PTK adalah sekelompok peserta didik yang sedang belajar. Oleh karenanya, PTK dapat juga dilakukan ketika anak sedang mengikuti karyawisata, kegiatan di laboratorium, atau dimana saja ketika siswa sedang mengerjakan tugas diberikan oleh guru. Komponen dalam sebuah kelas, semuanya dapat dikaji melalui penelitian tindakan kelas ini. Komponen dimaksud di antaranya adalah siswa, guru, materi pelajaran, peralatan, hasil pembelajaran, lingkungan dan pengelolaan pembelajaran serta lain sebagainya.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan PTK ialah suatu penelitian yang dilakukan secara sistematis reflektif terhadap berbagai tindakan yang dilakukan oleh guru yang sekaligus sebagai peneliti, sejak disusunnya suatu perencanaan sampai penilaian terhadap tindakan nyata di dalam kelas yang berupa kegiatan belajar-mengajar, untuk memperbaiki kondisi pembelajaran yang dilakukan. Sementara itu, dilaksanakannya PTK di antaranya untuk meningkatkan kualitas pendidikan atau pangajaran yang diselenggarakan oleh guru/pengajar-peneliti itu sendiri, yang dampaknya diharapkan tidak ada lagi permasalahan yang mengganjal di kelas.

Baca juga: Tugas dan Fungsu Juri dalam Pencak Silat

Merencanakan Penelitian Tindakan Kelas berdasarkan Studi Kasus dalam Pembelajaran Pendidikan Jasmani

Kurangnya budaya membaca menyebabkan guru kurang mampu untuk menulis dengan baik. Padahal, menulis itu dimulai dari banyak membaca. Kalau sudah banyak membaca tentu guru akan tertarik untuk meneliti dari apa yang dibacanya, penelitian dimulai dari adanya masalah. Masalah dapat dipecahkan bila kita melakukan penelitian. Penelitian dapat dilakukan bila adanya upaya dari guru untuk memperbaiki kualitas pembelajaran di sekolah.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh guru dikelasnya sendiri dengan jalan merencanakan, melaksanakan, dan merefleksikan tindakan secara kolaboratif dan partisipatif dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa dapat meningkat disebut Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Masalah harus berawal dari guru itu sendiri yang berkeinginan memperbaiki dan meningkatkan mutu pembelajarannya disekolah dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan.

PTK atau classroom action research (CAR) adalah action research yang dilaksanakan oleh guru didalam kelas. Penelitian tindakan pada hakekatnya merupakan  rangkaian  “  riset-tindakan-riset-tindakan-riset-tindakan”,  yang dilakukan secara siklus, dalam rangka memecahkan masalah, sampai masalah itu terpecahkan. Ada beberapa jenis Penelitian Tindakan, dua diantaranya adalah individual action research dan collaborative action research (CAR). Jadi CAR bisa berarti dua hal, yaitu classroom action research dan collaborative action research;dua-duanya merujuk pada hal yang sama.

Dalam PTK, guru harus bertindak sebagai pengajar sekaligus peneliti. Fokus penelitian berupa kegiatan pembelajaran. Guru adalah orang yang paling akrab dengan kelasnya, dan biasanya interaksi yang terjadi antara guru-siswa berlangsung secara unik. Keterlibatan guru dalam berbagai kegiatan kreatif dan inovatif yang bersifat pengembangan mempersyaratkan guru untuk mampu melakukan PTK dikelasnya.

Gurupun mempunyai hak otonomi untuk menilai sendiri kinerjanya, berusaha untuk introspeksi diri dengan tetap mengikuti kaidah-kaidah penelitian yang sudah baku dan bukan tradisional. Dari berbagai pengalaman penelitian, temuan penelitian tradisional terkadang sangat sukar diterapkan untuk memperbaiki pembelajaran disekolah. Karena itu arahan atau petunjuk untuk melakukan PTK dan sumber dananya sangat diperlukan oleh para guru. Adanya masalah yang dirasakan sendiri oleh guru dalam pembelajaran di kelasnya merupakan awal dimulainya PTK. Masalah tersebut dapat berupa masalah yang berhubungan dengan proses dan hasil belajar siswa yang tidak sesuai dengan harapan atau hal lain yang berkaitan dengan perilaku mengajar guru, dan perilaku balajar siswa. Langkah menemukan masalah akan dilanjutkan dengan menganalisis dan merumuskan masalah, kemudian merencanakan PTK dalam tindakan perbaikan, mengamati, dan melakukan refleksi. Namun demikian harus dapat dibedakan antara pengamatan dengan refleksi. Pengamatan lebih cenderung kepada proses, sedangkan refleksi merupakan perenungan dari proses yang sudah dilakukan.

Dalam pembelajaran Pendidikan Jasmani masalah bisa saja muncul, masalah itu sendiri dapat dipahami adanya kesenjangan antara harapan dengan kenyataan, masalah bisa berupa hasil belajar siswa rendah, dapat diakibatkan kurangnya motivasi yang dilakukan oleh guru terhadap siswanya, kurangnya media pembelajaran yang aplikatif yang digunakan guru penjas, kurangnya materi pada bahan ajar yang ada dalam bahan ajar, atau guru kurang mampu untuk memvariasikan model-model pembelajaran. Dari beberapa studi kasus tersebut guru akan mencari solusinya dengan cara mengidentifikasi permasalahan yang ada, setelah itu baru guru dapat merencanakan tahapan selanjutnya, kita akan melihat gambar siklus PTK dibawah ini.

Dari gambar siklus PTK pertama sekali yang dibutuhkan adalah perencanaan (planning) yang matang setelah kita tahu ada masalah dalam pembelajaran kita. Perencanaan itu harus diwujudkan dengan adanya tindakan (acting) dari guru berupa solusi dari tindakan sebelumnya. Lalu kemudian diadakan pengamatan (observing) yang teliti tentang proses pelaksanaannya. Setelah diamati, barulah guru dapat melakukan refleksi (reflecting) dan dapat menyimpulkan apa yang telah terjadi dalam kelasnya.

Keempat langkah utama dalam PTK yaitu merencanakan, tindakan, mengamati, dan refleksi merupakan satu siklus dan dalam PTK siklus selalu berulang. Setelah satu siklus selesai, barangkali guru akan menemukan masalah baru atau masalah lama yang belum tuntas dipecahkan, dilanjutkan kesiklus kedua dengan langkah yang sama seperti pada siklus pertama.

Dengan demikian berdasarkan hasil tindakan atau pengalaman pada siklus pertama guru akan kembali mengikuti langkah perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi pada siklus kedua. Siklus yang baik, biasanya lebih dari dua siklus, dan waktu siklus yang baik lamanya sekitar enam bulan atau satu semester.

Baca juga: Perwasitan dalam Tenis Meja 

Kesimpulan: PTK sebagai Kunci Inovasi Pembelajaran PJOK

Dapat disimpulkan bahwa Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah instrumen paling efektif bagi guru untuk mengevaluasi sekaligus meningkatkan kualitas interaksi belajar-mengajar. Dengan memahami alur siklus yang dimulai dari perencanaan hingga refleksi, guru PJOK tidak lagi hanya menduga-duga penyebab kegagalan pembelajaran, melainkan memiliki basis data yang kuat untuk melakukan perbaikan.

Melalui PTK, setiap kendala di lapangan—baik itu masalah fasilitas maupun teknik gerak siswa—dapat diubah menjadi peluang inovasi. Konsistensi dalam melakukan riset tindakan ini tidak hanya akan meningkatkan hasil belajar siswa, tetapi juga mengukuhkan jati diri guru sebagai pendidik profesional yang adaptif dan solutif. Mari mulai mencermati masalah di kelas Anda hari ini dan jadikan itu langkah awal untuk perubahan yang lebih baik!

Daftar pustaka:

Dewi, R. (2019). Modul 6: Tes, pengukuran, penilaian dan evaluasi serta penelitian tindakan kelas dalam pembelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Panduan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) PJOK: Pengertian, Siklus, dan Cara Menyusunnya Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Ikbal H

0 komentar:

Posting Komentar